Rabu, 22 Juni 2016

SAFARI RAMADHAN KE KOREA, UST FATHURROZI : “PEGANG TEGUH TRADISI ASWAJA NU”

wawancara darussalammkeputih.com
bersama Ust. Moh. Fathurrozi, Lc.,M.Th.I*

(Surabaya dan Jheongwan, South Korea,  21 Juni 2016)
 

darussalammkeputih.com, [Surabaya, 21/6/2016] ada banyak ilmu yang bisa kita peroleh, dimanapun dan kapanpun itu, dan dengan cara apapun itu, ilmu itu diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pencarinya, tidak terkecuali sebuah pengalaman berharga dari seorang Ustadz yang sehari-harinya dihabiskan untuk berdakwah dibalik tembok pesantren, institusi, organisasi, dan masyarakat. Sebagai seorang ustadz di Ponpes Darussalam Keputih Surabaya, Ust Fathurrozi, yang akrab disapa Ust. Rozi ini tidak bisa mengisi pengajian rutinnya di Ponpes Darussalam Keputih Surabaya selama Bulan Ramadhan 1437 H. Hal ini dikarenakan beliau mendapat undangan resmi dari PCI NU Korea untuk mengisi kajian Ramadhan dan imam tarawih sebulan penuh di Korea. 

Perkembangan tekhnologi-pun membuat darussalammkeputih.com menfasilitasi komunikasi keilmuan yang dinanti-nantikan oleh santri Ponpes Darussalam Keputih, wawancara kami dengan beliau melalui sebuah media Sosial di sela-sela waktu beliau pun berbuah hasil. Berikut ini kami paparkan hasil wawancara darussalammkeputih.com bersama beliau di Jheongwan, South Korea. Semoga bermanfaat.      
____________________



darussalammkeputih.com : “Ust berapa lama Ust safari ramadhan di Korea?”

Jadwal Safari Ramadhan saya di Korea,  InsyaAllah, selama 1 bulan penuh bersama utusan-utusan dari PCI NU Korea yang lain. Safari Ramadhan kali ini adalah yang kedua kalinya. Dulu pada tahun 2013, saya merupakan orang pertama dan satu-satunya da'i dari kalangan nahdhiyyin yang berangkat ke Korea sebagai undangan resmi dari PCI NU Korea bekerjasama dengan LAZIZ NU Pusat untuk berdakwah. Waktu itu,  saya diminta oleh ketua LAZIZ NU pusat, Bpk, K. H.  Masyhuri Malik,  menyampaikan kepada PCI NU Korea untuk membentuk LAZIZ NU cabang Korea. Alhamdulillah sekarang LAZIZ NU cabang Korea telah terbentuk.  Safari Ramadhan kali ini,  saya di undang atas kerjasama PCI NU dan LAZIZ NU Korea.



darussalammkeputih.com : “Hidup lama di negara atheis, apa tidak sulit cari makanan halal?”

Di sini (Korea, red) ada badan Halal KMF (Korean Muslem Foundation), jadi kalau urusan makanan seperti ayam dan daging,  yang diperlukan penyembelihan secara syar'i, bisa didapatkan di Koperasi KMF,  bahkan di sana juga tersedia makanan-makanan Indonesia. Sementara untuk ikan dan sayur-sayuran bisa didapatkan di warung-warung Korea,  seperti Lotte Mart, E-mart dan Asia Mart. Alhamdulillah, di sini setiap Masjid dan Mushalla memiliki Koperasi sendiri, jadi Masyarakat yang berdekatan dengan Masjid bisa langsung beli ke Masjid.



darussalammkeputih.com: “Di sana Ust. Ngaji Kitab apa saja, dan bagaimanakah sistem tarawihnya?”

Kalau ngaji kitab, ya saya pakai Safinah, Durratun Nashihin, dan Nashaihul Ibad, tergantung permintaan ketua takmir mushalla atau masjidnya. Sementara kalau tarawih tidak menggunakan sistem khataman satu malam satu juz sebagaimana di Mekkah,  tapi saya pribadi membaca dari awal Al-Qur’an,  sebab sebagian besar masyarakat Indonesia di Korea adalah pekerja, makanya tidak mungkin pakai teraweh dengan sistem khataman.

Jumlah raka'at teraweh di sini bervariasi;  ada yang melaksanakan 20 rakaat,  ada pula yang 8 rakaat.  Karena sebagian besar masyarakat muslim Indonesia di Korea ini sebagai tenaga kerja. Oleh sebab itu,  sebagian mushalla atau masjid ada yang menerapkan 8 rakaat tapi menggunakan bilal saat rehat shalat sebagaimana tradisi di Indonesia. Meskipun demikian, suasana indah bulan ramadhan tetap terasa. Tidak ketinggalan jamuan dan masakan ala Indo, seperti kolak dan es buah menjadi menu utama di mushalla-mushalla dan masjid. 


darussalammkeputih.com: “Bagaimana respon warga asli Korea dengan ibadah puasa muslim selama Ramadhan?”

Yaa… mereka sangat toleran, tidak ada masalah selama mereka tidak terganggu.  Hidup di sini aman dan tentram. Tapi kalau masuk dalam urusan bekerja, di sini dituntut untuk konsisten dan profesional. Misalnya, kalau belum waktunya istirahat atau pulang,  sedikit sekali para Sajang (red: bos) yang mengijinkan pekerjanya beribadah tapi biasanya mereka tetap toleran dengan memberi waktu untuk berbuka atau shalat.



darussalammkeputih.com : “Tampilan ust. tetap sarungan ?"

Ya.. tetap sarungan…. Sebab sarung adalah bagian yang tak terpisahkan dari ciri khas santri NU, meskipun bukan berarti yang bersarung adalah santri. Sarung itu ibarat kata anak sekarang : “toleran, dinamis, dan demokratis”, sederhananya, bebas luar dalam… (sambil tertawa) hehehe...



darussalammkeputih.com : “Ada Hal unik apa yang Ust. dapatkan di sana ?"


Yang unik, salah satunya adalah orang-orang indonesia (Muslim, red) di Korea terlihat lebih agamis dan lebih intens dalam beribadah, entah kenapa, mungkin selama ini pencarian mereka akan identitas sebagai muslim teruji hingga menjadi kuat di tengah-tengah masyarakat Korea yang Atheis.

Saat mereka sibuk bekerja setiap hari megumpulkan pundi-pundi Won,  yang tanpa kenal lelah siang dan malam, mereka semakin sadar akan kebahagiaan yang lain selain harta, yaitu kembali kepada-Nya. Nilai inilah yang kemudian mereka aplikasikan dan diejawantahkan dengan melakukan ibadah kepada-Nya.  Selain itu,  mereka juga sering kumpul-kumpul antar WNI di sana untuk Yasinan  dan Shalawatan sebagai bentuk perkumpulan antar WNI di sana dan obat kangen.

Lebih unik lagi, bahwa berdirinya sebuah Mushalla, yang menjadi cikal bakal Masjid,  adalah hasil dari solidaritas Jamaah Yasinan. Mereka setiap minggunya melakukan Yasinan dan penggalangan dana dari anggotanya untuk menyewa Flat sebagai tempat ibadah dan kajian-kajian ke-Islam-an.



darussalammkeputih.com : “Bagaimana perkembangan NU di Korea?”

Alhamdulillah NU di sini (Korea,red) semakin berkembang, hampir 80 % Masyarakat Indonesia (Muslim, red) di Korea adalah warga Nahdhiyyin.

Saya selalu menekankan kepada mereka untuk selalu berpegang teguh dengan ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Al-Nahdhiyyah, juga pentingnya melakukan Inovasi-inovasi baru dalam mengembangkan pemahaman Islam dengan menggunakan pendekatan Tradisi Lokal. 



darussalammkeputih.com : “Bagaimana kebiasaan /rutinan Warna Nahdhiyyin di sana selama Ramadhan?”

Seperti halnya di Indonesia, mereka Tadarrusan, Tarawih dan mengikuti pengajian kitab kuning. Di samping itu ada pula pengajian khusus tentang ke-Aswaja-an bagi internal pengurus demi pemantapan tentang Aswaja NU.

Adapula yang melakukan bukber (buka bersama) sebagai acara inti namun sebelumnya di isi oleh pembacaan surat yasin bersama, shalawatan dan pengajian.  Ada sebagian masjid yang bukber dengan warga negara lain,  seperti Bangladesh,  Pakistan,  dll.  Di sini tampak persaudaraan antar muslim dari belahan dunia.



darussalammkeputih.com : “Saat diskusi, problem apa yang sering mereka tanyakan?”

Ya… masalah shalat Jum’at, shalat lima waktu,  kadang ada sajang atau bos yang melarang jumatan karena faktor waktu, ya… intinya boleh dikatakan masalah fikih ibadah. Selain itu,  ya... ada juga yang bertanya tentang fikih sosial.



darussalammkeputih.com : “Apa tidak ada yang bertanya masalah wahabi dan aliran-aliran lainnya?”

Ya tentu itu pertanyaan yang paling menarik untuk dikupas... ada sebagian yang bertanya seperti itu, hanya saja kami dari PCI NU tidak terlalu merespon sebab walau bagaimanapun perbedaan tetap perbedaan.  Sebab perbedaan itu adalah rahmat bagi umat apabila disikapi dengan arif. Hanya saja yang memprihatinkan adalah kadang ada yang menganggap bahwa perbedaan adalah bencana. Maka dari itu,  walaupun dalam amalan NU ada dalilnya tetap saja dianggap oleh mereka keluar dari nilai-nilai Islam. 

Sebenarnya kami dakwah di bumi Korea ini dengan bil Hikmah dan Mauidzah Hasanah…  Bil Hikmah kami terjemahkan dengan prilaku sehari-hari seperti mengedepankan nilai akhlak, santun dan  toleransi. Sedangkan dakwah bil Mauidzah Hasanah, kami menyampaikan pentingnya Akhlaq dalam berilmu, tidak saling menyalahkan bahkan membid’ah-bid'ahkan.  Intinya dalam ajaran NU: TASAMUH,  I'TIDAL dan TAWAZUN.

Semakin kita keras kepada ummat, kaku terhadap budaya setempat, mereka malah semakin menjauh dari ajaran Islam. Nabi,  sebagai teladan dan panutan,  mengajarkan kepada kita untuk lemah lembut dalam berdakwah kemudian dicontohkan dengan prilaku dan akhlaq yang mulya, bukan malah senang melaknat, membid’ahkan dan menyalahkan orang lain apalagi merasa dirinya paling benar.

Suatu ketika Nabi diminta oleh salah satu sahabat untuk mendoakan jelek kepada orang Musyrik, tapi Nabi enggan merespon seraya bersabda : “Aku diutus ke muka bumi ini untuk menebarkan kasih sayang dan menyayangi seluruh ummat”

Dalam berinteraksi dengan orang-orang musyrik Nabi selalu lembut dan memakai Akhlaq apalagi kepada sesama muslim,  demikian inilah yang disebut Rahmat lil ‘Alamin. 



darussalammkeputih.com : “Bagaimana  tanggapan ust. dengan peringatan Nuzul Al-Qur’an ?”

Sejarahnya, pada bulan Ramadhan, hampir setiap hari Nabi beribadah di Gua Hira. Tidak seperti hari-hari biasanya. Lalu, pada hari ketujuh belas, Nabi menerima wahyu al-Qur'an pertama. Ayat yang diterima pertama adalah "iqra" surat Al-Alaq 1-5. Untuk mengenang sejarah turunnya al-Qur'an, kebanyakan masyarakat Nusantara memperingatinya dalam bentuk pengajian dan halaqah-halaqah ilmiah. Peringatan ini dikenal dengan sebutan "Nuzul al-Qur'an". Budaya peringatan "Nuzul al-Qur'an" seperti ini harus diapresiasi dan terus dikembangkan sebagai kajian sejarah al-Qur'an agar anak cucu kita mudah mengenal al-Qur'an bukan malah dianggap bagian dari bid'ah.



darussalammkeputih.com : “Apa pesan-pesan Ust. buat para santri khususnya dan muslim di Indonesia pada umumnya terkait pengalaman dakwah di Korea ?

Teruslah belajar… belajar dan belajar... jangan pernah bosan untuk belajar, hanya orang bodoh yang berhenti belajar dan merasa pintar. Ilmu itu terus mengalami perkembangan seiring kemajuan zaman, maka dari itu menerjemahkan dan mengaplikasikan ilmu di tengah-tengah masyarakat harus disertai pandangan yang luas sebab penerjemahan ilmu yang di dapatkan di Pesantren harus berdialektika dengan perubahan zaman.

Jadilah insan yang dinamis, lemah lembut, sebagaimana pesan Tuhan kepada kepada Nabi Musa dan Harun dalam surat Thaha ayat 44.

Di luar sana banyak umat yang membutuhkan bimbingan kita. Oleh karena itu,  marilah kita belajar dan terus belajar, belajar mengaplikasikan ilmu di tengah-tengah masyarakat, menyampaikan ilmu dengan akhlak yang baik,  memecahkan masalah dengan bijak,  mendialektikakan ilmu dengan budaya. Jangan memicingkan mata demi tercapainya tujuan duniawi.

Akhlaq yang baik bukan karena kita diam menundukkan kepala dengan pakain yang rapi,  bukan pula berteriak lantang menjustice perbuatan orang lain dengan bahasa yang kurang bijak, tapi akhlak yang baik adalah mengaplikasikan sunnah dan prilaku Nabi dengan "ungkapan" yang sederhana di tengah-tengah masyarakat. Dengan bahasa lain, mengaplikasikan esensi sunnah Nabi bukan pada simbolnya saja.

 * Narasumber adalah Ustadz sekaligus Pengurus Bidang Pendidikan & Pengajian di Ponpes Darussalam Keputih Surabaya Jatim, serta Dosen di IAI (Institut Agama Islam) AL-KHOZINY BUDURAN SIDOARJO.


(diberitakan oleh alief el-kindary)

Popular Posts